LCGC

Penjualan LCGC Anjlok 30 Persen Sepanjang 2025 Industri Otomotif Indonesia Tertekan

Penjualan LCGC Anjlok 30 Persen Sepanjang 2025 Industri Otomotif Indonesia Tertekan
Penjualan LCGC Anjlok 30 Persen Sepanjang 2025 Industri Otomotif Indonesia Tertekan

JAKARTA - Pasar otomotif nasional menutup 2025 dengan catatan yang beragam. 

Di satu sisi, penjualan bulanan pada akhir tahun menunjukkan lonjakan signifikan, namun di sisi lain performa tahunan justru mencerminkan perlambatan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemulihan industri belum merata, terutama pada segmen mobil terjangkau yang selama ini menjadi andalan konsumen pemula.

Data penjualan terbaru memperlihatkan tekanan paling dalam terjadi pada segmen Low Cost Green Car atau LCGC, yang sepanjang 2025 belum menemukan momentum kebangkitan. Situasi tersebut menjadi sorotan karena LCGC selama ini diposisikan sebagai tulang punggung penjualan mobil nasional.

Gambaran Penjualan Mobil Nasional 2025

Berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan mobil secara wholesales pada Desember 2025 memang menunjukkan peningkatan yang cukup mencolok. 

Kenaikan hingga 25,7% dibandingkan Desember 2024 memberi kesan bahwa pasar mulai bergerak positif menjelang akhir tahun. Namun, capaian bulanan tersebut belum mampu menutup kinerja penjualan sepanjang tahun yang masih menurun.

Secara akumulatif, penjualan mobil dari Januari hingga Desember 2025 tercatat sebesar 803.687 unit. Angka ini berarti terjadi penurunan sekitar 7,2% secara year-on-year dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi retail sales, total penjualan di 2025 juga berada di level yang sama, yakni 803.687 unit, atau turun 6,3% dibandingkan 2024 yang mencapai 889.680 unit. Data ini menegaskan bahwa tekanan daya beli masih terasa kuat.

Lonjakan Desember Belum Pulihkan Tahunan

Kinerja Desember 2025 kerap dipandang sebagai anomali positif di tengah tren perlambatan. Penjualan wholesales pada bulan tersebut mencapai 94.100 unit, naik signifikan dari 74.853 unit pada Desember 2024. Dari sisi ritel, kenaikan juga tercatat sekitar 22,7%, menandakan adanya dorongan transaksi menjelang tutup tahun.

Meski demikian, lonjakan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren tahunan. Banyak pelaku industri menilai kenaikan di Desember lebih dipicu oleh strategi diskon, penyesuaian stok, serta pembelian tertunda dari bulan-bulan sebelumnya. Dengan demikian, perbaikan yang terjadi masih bersifat jangka pendek dan belum mencerminkan pemulihan struktural di pasar otomotif nasional.

LCGC Kian Terpuruk Sepanjang Tahun

Sorotan utama justru tertuju pada segmen LCGC yang kinerjanya semakin melemah. Mobil yang selama ini dikenal sebagai kendaraan bagi first time buyer tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan sepanjang 2025. Penjualan LCGC yang pada 2024 masih mencapai 176.766 unit, atau sekitar 20,4% dari total penjualan mobil nasional, mengalami penurunan tajam pada tahun berikutnya.

Hingga akhir 2025, penjualan LCGC tercatat hanya sebesar 122.688 unit. Artinya, terjadi penurunan sekitar 30,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa tekanan paling besar di industri otomotif justru terjadi pada segmen entry level, yang sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi, pembiayaan, dan kebijakan fiskal.

Dominasi Pemain Besar di Segmen LCGC

Di tengah penurunan pasar, struktur persaingan di segmen LCGC relatif tidak berubah. Grup Astra tetap menjadi pemimpin pasar dengan menguasai pangsa pasar sekitar 77% sepanjang 2025. Capaian ini bahkan meningkat dibandingkan 2024 yang berada di level 75%.

Dominasi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar menyusut, pemain besar dengan jaringan distribusi luas dan portofolio produk lengkap masih mampu mempertahankan posisinya. Namun, peningkatan pangsa pasar ini lebih disebabkan oleh menyusutnya pemain lain ketimbang ekspansi permintaan. Dengan kata lain, persaingan terjadi di pasar yang semakin kecil.

Pandangan Pengamat Soal Tantangan 2026

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa 2026 masih akan menjadi tahun yang menantang bagi segmen LCGC. Menurutnya, beberapa faktor pemberat belum sepenuhnya hilang dan berpotensi menahan laju pemulihan mobil entry level.

Yannes juga menyebut bahwa 2026 berpeluang menjadi tahun pemulihan sektor otomotif, meski tidak berlangsung merata. Segmen LCGC dan low MPV dinilai paling rentan karena sangat sensitif terhadap cicilan dan persetujuan kredit. “Permintaan di segmen terbesar seperti LCGC/entry dan low MPV masih sangat sensitif terhadap cicilan dan persetujuan kredit, jadi pemulihan terutama ditentukan oleh transmisi penurunan suku bunga ke bunga leasing, serta kepastian pajak dan insentif,” ujarnya.

Arah Industri di Tengah Ketidakpastian

Melihat kondisi tersebut, pelaku industri menilai kunci pemulihan otomotif ke depan terletak pada dukungan pembiayaan dan kepastian kebijakan. Penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat segera diterjemahkan menjadi bunga kredit yang lebih ringan bagi konsumen. Selain itu, kejelasan insentif pajak dan keberlanjutan program kendaraan ramah lingkungan juga dinilai krusial.

Tanpa dorongan tersebut, segmen LCGC berisiko terus tertekan meski pasar otomotif secara umum mulai bergerak naik. Tahun 2025 menjadi pengingat bahwa pertumbuhan tidak selalu merata, dan segmen yang menyasar konsumen menengah bawah justru paling rentan terhadap gejolak ekonomi. 

Dengan tantangan yang masih membayangi, 2026 akan menjadi tahun penentuan bagi arah pemulihan industri otomotif nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index