TRAVEL

Strategi Pariwisata Indonesia Tingkatkan Kunjungan Wisman Lewat Teknologi AI

Strategi Pariwisata Indonesia Tingkatkan Kunjungan Wisman Lewat Teknologi AI
Strategi Pariwisata Indonesia Tingkatkan Kunjungan Wisman Lewat Teknologi AI

JAKARTA - Di tengah upaya meningkatkan daya saing pariwisata nasional, pemerintah mulai menaruh perhatian lebih pada strategi berbasis data dan teknologi. 

Alih-alih hanya mengandalkan promosi konvensional, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kini memetakan pasar utama wisatawan mancanegara sekaligus memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca kebiasaan perjalanan wisatawan dunia.

Targetnya tidak kecil. Pada tahun 2026, Indonesia menargetkan 17,6 juta kunjungan turis asing. Fokus pemasaran diarahkan pada wisatawan dari 15 negara yang selama ini memberi kontribusi terbesar sekaligus memiliki potensi belanja yang tinggi.

Pendekatan baru ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas wisatawan serta dampaknya bagi ekonomi nasional.

Fokus Teknologi Untuk Mengikuti Perubahan Perilaku Wisatawan

Perubahan cara orang merencanakan perjalanan membuat strategi pariwisata ikut bergeser. Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Kemenpar, Firnandi Gufron, menjelaskan bahwa tren pariwisata 2025 menjadi pijakan penting untuk merancang langkah tahun 2026.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital  terutama AI  kini berperan besar dalam proses perencanaan liburan.

"Ada tiga faktor yang terkait dengan mega trend global, yang pertama itu teknologi digital. Ada 54 persen wisatawan dunia percaya bahwa mereka sudah mulai shifting menggunakan AI yang semula masih search engine, sekarang sudah adalah shifting ke AI. Jadi penggunaan AI ini juga ada di fase planning dan booking," ujar Firnandi.

Dengan kemampuan mempersonalisasi rekomendasi, AI dinilai membantu wisatawan menemukan destinasi, tiket, hingga akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini membuat pemasaran pariwisata perlu lebih cerdas dan terukur.

Menjawab Isu Keberlanjutan dan Kebutuhan Personal

Selain teknologi, Kemenpar juga membaca tren lain yang berkembang di kalangan wisatawan global. Wisata tak lagi hanya soal hiburan, tetapi berkaitan dengan gaya hidup dan kesadaran lingkungan.

Firnandi menyoroti bahwa aspek keberlanjutan menjadi salah satu faktor penting.

Ia menyebut adanya kecenderungan wisata yang memperhatikan keberagaman, keseimbangan hidup, serta kelestarian alam.

"Dan yang ketiga, personalisasi perjalanan. Dari data mencatat 93 persen responden itu mempercayai AI untuk mencari informasi perjalanan yang akurat dan dapat dipercaya," lanjutnya.

Karena itu, program-program pariwisata nasional diarahkan selaras dengan megatren global. Pada 2025 terdapat lima program utama: gerakan wisata bersih, Tourism 5.0, Pariwisata Naik Kelas, event berbasis IP Indonesia, serta Desa Wisata.

Memasuki 2026, kelima program tersebut tetap dilanjutkan dan diperkuat.

Prioritas Keselamatan Wisata Sebagai Tambahan Program

Selain kesinambungan program yang sudah berjalan, pemerintah menambahkan satu fokus baru: keselamatan wisata.

Pengalaman di berbagai destinasi menunjukkan bahwa masih ada celah pengawasan meski prosedur standar sudah tersedia.

"Peningkatan keselamatan berwisata kita banyak mendapatkan catatan. Kenyataan masih banyak destinasi yang sebenarnya mungkin sudah ada SOP untuk keselamatan, tetapi penerapannya pengawasannya kurang ketat. Jadi, ada terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan yang sebenarnya itu bisa kita cegah," jelas Firnandi.

Dengan memperkuat standar keselamatan, Indonesia ingin membangun citra destinasi yang nyaman, aman, dan layak dikunjungi kembali.

Menyasar Pasar Utama Dengan Daya Beli Tinggi

Strategi berikutnya adalah memperjelas fokus pasar. Kemenpar memasarkan pariwisata Indonesia ke negara-negara yang selama ini menjadi penyumbang terbesar kedatangan wisatawan mancanegara.

Sebanyak 15 negara yang menjadi pasar utama pariwisata Indonesia adalah Malaysia, Singapura, Australia. Kemudian juga ada yang growth bagus ada China, India. Kemudian Jepang Korea, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Belanda, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Amerika.

"Secara historis, ini 15 pasar yang kontribusi terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia," ungkapnya.

Kelompok wisatawan ini dibagi menjadi dua: mass tourist dan premium traveler. Mereka yang berasal dari kawasan jauh seperti Eropa dan Amerika dinilai memiliki kemampuan belanja lebih besar.

"Seperti Eropa, Amerika, mostly itu punya spending power yang lebih besar karena sudah pasti secara tiket lebih mahal. Yang kedua, mereka harus spending waktu lebih lama untuk durasi penerbangan pergi dan pulang dari origin country-nya mereka ke Indonesia. Jadi mereka harus spending waktu lebih banyak, spending biaya lebih besar," pungkas dia.

Dengan mengombinasikan teknologi, keberlanjutan, keselamatan, dan pemetaan pasar utama, pemerintah berharap pariwisata Indonesia tidak hanya pulih — tetapi tumbuh lebih matang dan kompetitif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index